3 September, Pertamina Gheotermal Energy Mulai Terapkan COD

3 September, Pertamina Gheotermal Energy Mulai Terapkan COD

RIMAUNEWS.COM, Muara Enim- Setelah melalui perjalanan panjang sejak 2008, memulai perencanaan hingga memasuki masa pembangun dan siap beroperasi, awal bulan September 2019, Proyek Lumut Balai I PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) telah siap dioperasikan untuk menghasilkan listrik. "Sekarang kita sedang melakukan uji coba, mudah-mudahan jika tidak ada kendala tanggal 3 September 2019 Comersial Operatioan Day (COD)," ujar Sekretaris Perusahaan PT PGE Lumut Balai Ryan Dwi Gustrianda didampingi Pimpinan Proyek Febrianus Erydani disela-sela Kunker Bupati Muaraenim Ahmad Yani dan Wabup Muaraenim Juarsah di PGE Lumut Balai, Semende, Kabupaten Muaraenim, Selasa (20/8).

Menurut Febrianus Erydani, sesuai rencana untuk COD pada tanggal 3 September 2019. Namun saat ini pihaknya belum tahu siapa yang akan meresmikan dan kapan diresmikannya. Sebab akan melibatkan dua Kabupaten yakni Muaraenim dan OKU. Untuk Cluster Lumut Balai I, ada lima sumur, Cluster IX ada dua sumur, dan Cluster VI ada dua sumur. Dan setelah selesai proyek Lumut Balai I, nanti akan dilanjutkan dengan proyek Lumut Balai II.

Dikatakan Febrianus, jika sesuai kontrak awal proyek ini dimulai tahun 2015 dan selesai tahun 2017. Namun didalam perjalanannya timbul berbagai permasalahan besar sehingga proyek ini molor dan selesai tahun 2019, seperti adanya longsor, kesiapan PLN terhambat masalah ganti rugi sehingga dampaknya ke proyek dan sebagainya.

Selain itu, tingkat kesulitan landscape yang paling sulit di Indonesia mungkin juga di dunia. Kendala lain transportasi yang berat sebab ada yang harus melewati pemukiman sehingga timbul permasalahan social. "Saya rasakan, proyek Lumut Balai I lebih berat dari proyek Lumut Balai II," ujarnya.

Untuk Tenaga Kerja, lanjut Febrianus, pihaknya menganjurkan para kontraktor untuk merekrut tenaga kerja lokal, namun memang harus ekstra sabar, sebab merubah pola hidup masyarakat yang biasanya sebagai petani tetapi kita paksa bekerja di infrastruktur tentu banyak menimbulkan friksi karena budaya kerja berbeda. Untuk jumlah tenaga kerja berjumlah 254 orang Tenaga Kerja Indonesia (TKI) dan 16 orang Tenaga Kerja Asing (TKA) yang didominasi dari negara Jepang.

Ketua DPRD Muara Enim Aries HB, bahwa pihaknya sangat mendukung dengan keberadaan PGE Lumut Balai di Kabupaten Muaraenim. Kedepan, PT PGE untuk selalu menjalin komunikasi dengan Pemkab Muaraenim seperti Bupati, DPRD, Polres, Kodim, Kejaksaan, dan semua instansi terkait termasuk masyarakat.

Sementara itu Bupati Muaraenim H Ahmad Yani, kalau dirinya sudah pernah datang ke Lumut Balai pada tahun 2008 pada saat ia menjabat sebagai anggota DPRD Sumsel. Dan suasana sungguh berbeda, infrastruktur sudah tertata rapih dan sudah siap berproduksi. Untuk tenaga kerja ia meminta gunakan tenaga kerja lokal dan tingkat kualitas SDMnya, sebab membangun SDM maupun infrastruktur bukan tugas pemerintah semata tetapi merupakan tugas bersama sehingga dampak keberadaan PGE bisa meningkatkan perekonomian masyarat sekitar khususnya Kabupaten Muaraenim

(Kurniawan)