Hindari Stok Terbuang, Bulog Stop Raskin Hingga Akhir Tahun

Hindari Stok Terbuang, Bulog Stop Raskin Hingga Akhir Tahun Kepala Perum Bulog Divre Sumsel Babel, Bakhtiar AS

rimaunews.com, PALEMBANG- Akhir tahun 2017, Perum Bulog Divre Sumatera Selatan dan Babel bantuan resmi menghapuskan Beras Raskin (Raskin). Hal ini hanya berlaku hingga akhir tahun ini guna mengambil langka untuk mengurangi atau mengerem pengadaan beras dari petani ke gudang Bulog.
Kepala Perum Bulog Divre Sumsel Babel, Bakhtiar AS mengatakan, pihaknya akan tetap melakukan pengadaan beras, namun tidak begitu digencarkan. "Pengadaan tetap. Beras yang kita dapatkan dari petani kan masuk ke gudang, kemudian sebagian besar dialokasikan untuk raskin. Namun, karena raskin akan berakhir di tahun ini, maka kita tidak begitu banyak mengambil beras dari petani. Tapi jika ada beras masuk kita terima," kata Bakhitar.
Menurut Bakhtiar, apabila pengadaan beras menumpuk, maka dikuatirkan kualitas beras tidak akan terjaga. Sebab, alokasi untuk mengeluarkan beras dari gudang, tidak sebanyak saat ada program raskin. "Kalau kami serap beras dari petani secara maksimal, kami akan kesulitan pasarnya. Karena kalau ada outlet raskin, maka beras yang ada di gudang kita akan lancar keluar masuknya," jelasnya.
Saat ini, jumlah beras di gudang Bulog terdapat 21.700 ton. Jumlah kuantitas beras tersebut mampu memenuhi kebutuhan masyarakat hingga tiga atau bulan kedepan.
Hingga November 2017 ini, pengadaan beras sendiri tercatat sudah mencapai 34.200 ton. Sementara target dari pemerintah pada 2017 ini 150.000 ton namun sudah direvisi menjadi 67.000 ton. Namun, Perum Bulog Divre Sumsel optimistis pengadaan beras hanya bisa mencapai 40.000 ton.
Bakhtiar menambahkan, selain. karena program raskin yang dihapus, masalah lain yang menyebabkan pengadaan sulit mencapai target cukup banyak ditemukan. Seperti kendala musim pancaroba yang mengakibatkan pertanian mengalami gagal panen. “Ini juga karena banyak hasil produksi beras dari petani yang dijual ke luar Sumsel, akibat dari harga beli dari petani yang dinilai rendah,” tukasnya.

(Hadi Wibowo)

Tags