Tercatat 1.460 Kasus Perceraian, Paling Banyak Terjadi Diusia Muda

Tercatat 1.460 Kasus Perceraian, Paling Banyak Terjadi Diusia Muda Suasana warga saat mendatangi Pengadilan Agama Muara Enim, Kamis (22/12).

RIMAUNEWS.COM, Muara Enim - Kasus perceraian yang terdaftar di Pengadilan Agama Muara Enim terus meningkat. Di 2017 ini saja sudah tercatat sebanya 1.460 kasus perceraian atau meningkat 19 persen dibanding tahun sebelumnya yang hanya tercatat sekitar 1.174 kasus perceraian.


“Angka perceraian yang terdaftar di Pengadilan Agama terus meningkat tiap tahun, dimana sudah naik 19 persen pada tahun ini karena terhitung dari Januari hingga pertengahan Desember 2017, kasus yang diterima ada sekitar 1.460 kasus gugatan cerai,” kata Kepala Pengadilan Agama Muara Enim, Drs H Habib Rasyidi Daulay MH, melalui Panitra Muda Hukum, Karbudin SAg, Jumat (22/12).


Menurutnya, pada 2017 tercatat ada 1.460 kasus gugat cerai yang terekam di Kantor Kementian Agama Muara Enim. Jumlah ini naik 286 kasus jika dibandingkan 2016 yang hanya 1.174 kasus.


“Angka tersebut (perceraian, red) mencangkup wilayah PALI dan Prabumulih. Tahun depan Kota Prabumulih sudah memiliki kantor Pengadilan Agama sendiri dan tidak gabung ke Muara Enim,” jelasnya.


Ia juga menuturkan, pasangan yang terbanyak mengajukan perceraian berada pada usia produktif, mulai dari usia 20 hingga tiga puluh tahun. Kebanyakan pasangan yang mengajukan gugatan cerai itu berakar dari permasalahan ekonomi dalam rumah tangga.


“Jika kita lihat perceraian tiap tahunnya kita khawatirkan usia pernikahannya masih muda,” katanya.


Dari jumlah kasus perceraian tersebut, lanjutnya, penyebabnya ada beberapa factor diantaranya selinggkuh, ekonomi, KDRT, poligami dan suami menjalani hukuman penjara.


“Penyebab masuknya kasus perceraian di Pengadilan Agama Muara Enim ada beberapa hal. Seperti masalah ekonomi, perselingkuhan sampai masalah ketidakadanya kecocokan antara pasangan suami-isteri, KDRT dan ada penyebabnya karena narkoba yang akibatnya tidak perduli lagi dengan keluarga,” terangnya.


Dikatakannya, kecenderungan gugatan cerai kebanyakan diajukan pihak perempuan. Menyikapi fenomena angka perceraian yang makin meningkat ini, penyuluhan kepada pasangan wajib ditingkatkan sebelum mereka memasuki jenjang pernikahan, apalagi setelah menjadi pasangan suami-isteri.


Ia menambahkan tingginya kasus perceraian di Muara Enim didominasi oleh kasus perceraian pasangan masyarakat umum. Beberapa memang ada kasus perceraian pasangan yang berhasil dimediasi.


“Kasus peceraian yang berhasil dimediasi oleh Pengadilan Agama hanya 12 kasus. Selebihnya mereka tetap berkeinginan cerai," pungkasnya.

(Kurniawan)

Komentar