Difteri Rentan Menyerang Kurangnya Imunisasi dan Rendahnya Kekebalan Tubuh

Difteri Rentan Menyerang Kurangnya Imunisasi dan Rendahnya Kekebalan Tubuh Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel), Lesti Nuraini saat diwawancarai mengenai difteri di kantornya.

RIMAUNEWS.COM, Palembang- Maraknya kasus penyakit Difteri yang saat ini terjadi di Indonesia mendapatkan perhatian dari Kementrian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia. Khusus di wilayah Palembang, sempat beberapa waktu lalu diduga tiga orang terjangkit Difteri setelah diperika hasilnya negatif.

Dalam hal ini Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel), Lesti Nuraini mengungkapkan munculnya penyakit Difteri ditimbulkan dengan adanya Immunity Gap yang merupakan kesenjangan atau kekosongan kekebalan di kalangan penduduk di suatu daerah. “Immunity Gap ini terjadi akibat adanya akumulasi kelompok yang rentan terhadap Difteri karena kelompok ini tidak mendapat imunisasi atau tidak lengkap imunisasinya,” kata Lesti, Kamis (14/12) saat diwawancarai di ruang kerjanya.

Belakangan ini di beberapa daerah di Indonesia, muncul penolakan terhadap imunisasi. Penolakan ini merupakan salah satu faktor penyebab rendahnya cakupan imunisasi. “Cakupan imunisasi yang tinggi dan kualitas layanan imunisasi yang baik sangat menentukan keberhasilan pencegahan berbagai penyakit menular, termasuk Difteri,” ujarnya.

Saat ini ada tiga jenis kasus Difteri yaitu kasus konfirmasi Difteri, Carrier Difteri, dan kontak Difteri. Untuk kasus konfirmasi Difteri adalah orang dengan gejala klinis Difteri dan hasil laboratorium apus tenggorokan yang menunjukkan hasil positif Corynebacterium Diptheriae

Selain itu, kasus Carrier Difteri adalah kontak kasus yang tidak menunjukkan gejala Difteri, tetapi hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan positif untuk Corynebacterium diphtheriae. Serta Carrier kronis dapat menularkan penyakit sampai 6 bulan.

Kasus Carrier harus mendapat pengobatan antibiotika sampai hasil laboratoriumnya menunjukkan negatif. Kasus kontak Difteri adalah orang serumah dengan kasus Difteri seperti tetangga, teman bermain, teman sekolah termasuk guru, teman kerja yang kontak erat dan kemungkinan terpapar percikan ludah kasus Difteri. Kasus kontak harus diberikan antibiotika untuk mencegah Difteri dan dilakukan pengamatan selama tujuh hari. “Difteri dapat menyerang orang yang tidak mempunyai kekebalan terutama anak. Akan tetapi dapat juga menyerang orang dewasa yang belum pernah mendapat imunisasi Difteri atau telah mendapat imunisasi Difteri tetapi tidak lengkap,” jelasnya

Menurut Data Kemenkes menunjukkan bahwa sampai dengan bulan November 2017, kasus Difteri dilaporkan dari 95 kabupaten/kota yang terletak di 20 provinsi di Indonesia. Ada 11 provinsi yang melaporkan  terjadinya KLB Difteri di wilayah kabupaten/kota-nya selama bulan Oktober dan November 2017 yaitu Sumatera Barat, Jawa Tengah, Aceh, Sumatera Selatan, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, Riau, Banten,  DKI, Jawa Barat, dan Jawa Timur. “Untuk vaksin di Sumsel tidak pernah kurang, kita selalu ada. Jika kabupaten/kota kekurangan, langsung lapor ke provinsi dan dikirim kembali,” tukasnya.

(Hadi Wibowo)

Komentar