Pasar Cinta Kasih Jadi TPA Tiap Minggu

Pasar Cinta Kasih Jadi TPA Tiap Minggu

rimaunews.com, MUARAENIM- Terjadinya penumpukan sampah yang terjadi setiap minggu di kawasan Pasar Cinta Kasih membuat kawasan tersebut seperti Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dadakan tiap minggunya.

Akibatnya,  warga yang berada di sekitar kawasan pasar tradisional di desa Cinta Kasih kecamatan Belimbing ini mengeluhkan hal itu karena banyaknya tumpukan sampah dan mengeluarkan bau yang tak sedap serta membuat mampetnya parit.

Tumpukan sampah dan mampetnya parit yang diakibatkan oleh sampah-sampah pasar mingguan yang hanya adanya transaksi jual beli setiap hari selasa dalam setiap minggunya. 

Hal tersebut terlihat jelas pada Jum'at (24/11) yang lalu dimana tumpukan sampah di bagian parkir pasar dan di parit disekitar pasar serta parit besar yang ada di tepiaan jalan lintas Sumatera di tempat tersebut mampet akibat banyaknya sampah.

Keluhan tersebut disampaikan warga sekitar akibat dari tumpukan sampah tersebut menimbulkan bau tidak sedap dan banyaknya lalat disekitaran rumah mereka. "Tolong diberitakan pak kami sudah risih dengan sampah ini setiap minggu pasti menumpuk seperti ini dan air parit ini sangat bau karena mampet dan air tersebut merupakan limbah dari pasaran getah setiap hari Selasa dan ditambah sampah dari pasar ini," ujar Ewin (35) warga setempat.  

Sementara itu kepala pasar Cinta Kasih, Sukman Efendi mengatakan bahwa hal tersebut terjadi karena kurangnya tenaga kebersihan pasar tersebut. "Tumpukan sampah itu biasanya dibuang ke tanah dari penjaga kebersihan pasar kita. Namun karena terbatasanya tenaga kebersihan tersebut yang hanya satu orang jadi sampahnya tidak bisa dibuang sekaligus," ujarnya.

Selanjutnya, Sukman menerangkan,  terkait sampah yang ada diparit sekitar pasar tersebut akibat terbawa aliran air hujan sehingga masuk kedalam parit dan menyebabkan parit tersebut tersumbat. "Gorong-gorong yang ada dibawah jalan itu tersumbat oleh sampah jadi tidak bisa mengalir. Sampah tersebut masuk kedalam parit akibat terbawa arus air hujan," jelasnya.

Ketika ditanya terkait retribusi pasar tersebut Sukman mengatakan bahwa retribusi yang mereka tetapkan hanya RP. 3000 per pedagang dan RP. 2000 untuk biaya parkir kendaraan. "Kita menarik retribusi sebesar RP. 3000 dan parkir Rp 2000, namun uang tersebut digunakan untuk honor juru tagih, penjaga parkir dan honor kebersihan pasaran tersebut serta sisanya masuk kedalan kas desa," pungkasnya.

(Kurniawan)

Komentar